Pesan Dari Ibu

Percakapan penenang hati, terucap dari mulut seorang bidadari yang kusebut Ibu. Yang akan selalu menjadi pegangan hidup. Hingga maut datang menjemput

"Jujur umik bangga sama kamu, Nak. Kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan tanpa perlu umik ajari ketika hatimu disakiti oleh orang lain. Jangan menyimpan dendam, apalagi amarah. Itu penyakit hati. Merusak keindahan hatimu, Nak.
Tetaplah meminta maaf sekalipun kamu tidak bersalah.
Tetaplah memaafkan sekalipun mereka tidak meminta kepadamu.
Tetaplah tersenyum sekalipun mereka membencimu.
Tetaplah mendoakan sekalipun mereka merendahkan dirimu.
Sinarilah hatimu dengan cahaya kebaikan.
Allah Maha Tahu. Allah tidak pernah tidur, Nak.

Umik percaya anak umik adalah gadis yang lembut hatinya, dan selalu ceria.
Gadis yang tidak pernah berbangga dengan kekayaan orang tua, yang sederhana, apa adanya.
Teruslah bersimpati pada orang lain.
Sebelum kamu mau menyakiti, bayangkan posisi orang tercintamu sebagai mereka. Masih berani berniat buruk?

Sungguh, umik tidak butuh adik selalu sukses dalam hal duniawi, tapi sukseslah dalam membanggakan umik kelak di hadapan Allah.
Umik tidak butuh anak yang kaya uangnya, umik butuh anak yang kaya hatinya.
Yang kelak membacakan al-Qur'an ketika umik dan aba sakaratul maut.
Yang kelak membimbing umik dan aba berucap "Laailahailallah" sebelum dipanggil oleh malaikat maut.
Yang selalu membacakan doa agar umik dan aba diampuni dosanya saat sudah meninggal dunia.

Jadilah istri yang sholihah Nak, yang patuh pada suamimu. Yang sayang pada mertuamu.
Jadilah dokter yang amanah, yang mengabdi bukan demi harta, tapi karena mengharap ridho Allah saja.
Itu sudah cukup.
Umik sayang adik.
Umik bangga punya anak yang sudah mengerti seperti ini, umik jadi tenang.
Kamu harapan umik, tolong jaga adikmu ya. Tolong nasihati kakakmu juga.
Jadilah ibu kedua untuk mereka. Bimbing agamanya. Umik titip ya Nak."


Oh umik. Ibuku, teladanku, bidadariku, sahabatku.
Sungguh aku bersyukur, memiliki ibu sepertimu.
Telah mendidikku sebagai gadis periang, penyayang, pemaaf.
Mengajarkanku menjadi gadis yang selalu menangis melihat orang menangis.
Iba melihat orang bersedih.
Berbahagia melihat orang gembira.
Menghibur orang yang tidak enak hati.
Mendoakan orang yang resah karena musibah.
Menempatkan kepentingan orang lain diatas kepentingan pribadi.
Aku rela Umik, untuk tersakiti, tercaci, terhina, asal membawaku pada kasih sayang Allah.

Umik,
Aku bukan anak yang superior dalam akal.
Bukan pula anak yang sempurna dalam belajar.
Tidak bisa mendapat nilai terlalu tinggi.
Prestasi yang didapat juga tidak bisa memuaskan hati.

Tapi,
Akan kubuktikan,
Bahwa anakmu yang biasa saja ini,
Akan menjadi seorang anak yang tak pernah berhenti menyebut namamu dalam doanya.
Tidak akan pernah lupa untuk mengunjungimu dikala senggang dan sibuknya.
Dan selalu mengingat dirimu di setiap sujudnya.

Aku berjanji,
Akan menjadi anak yang kelak sanggup bersaksi.
Bahwa umik dan aba, telah mendidik anak-anaknya.
Bukan untuk mengejar dunia, namun mengejar kasih sayang Allah semata.



Ya, semoga pesan dari ibu saya ini juga bisa menyentuh hati pembaca semua untuk bisa menjadi lebih baik :)